Opini

Membumikan Pancasila Melalui Apel Pagi: Praktik Sederhana, Makna Besar di KPU Kabupaten Sumedang

Oleh: Ketua Divisi Perencanaan, Data & Informasi, Asep Wawan

Apel pagi sering dianggap sebagai rutinitas birokrasi yang berlangsung singkat, formal, bahkan repetitif. Namun sesungguhnya, jika dicermati lebih dalam, apel pagi di lingkungan KPU, khusunya di KPU Kabupaten Sumedang mengandung pesan filosofis, etis, dan kebangsaan yang sangat kuat—terutama jika dikaitkan dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam tata kelola pemerintahan.

Dalam setiap apel, terdapat rangkaian kegiatan yang tampak sederhana: penghormatan, menyanyikan/mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila dan UUD 1945, mengheningkan cipta, amanat pembina apel, doa, hingga salam-salaman antarpegawai. Seluruh rangkaian ini bukan hanya seremoni. Ini  adalah proses internalisasi nilai yang hadir setiap hari senin pagi, mengingatkan setiap pegawai bahwa mereka memegang amanah penting sebagai penyelenggara Pemilu, penjaga kedaulatan rakyat, dan aparatur negara yang harus bekerja dengan integritas.

 

Persatuan dalam Simbol-Simbol Kebangsaan

Ketika Lagu Indonesia Raya diperdengarkan, seluruh peserta apel berdiri tegap. Pada momen itu, identitas individual—jabatan, masa kerja, latar belakang—sejenak melebur dalam satu identitas besar: kita adalah warga negara Indonesia. Di KPU, simbol ini bahkan memiliki makna tambahan, karena lembaga ini adalah jantung dari proses demokrasi yang menentukan arah persatuan bangsa melalui pemilu yang jujur dan adil.

Pembacaan teks UUD 1945 dan Pancasila setiap apel tidak hanya menegaskan dasar konstitusi, melainkan juga menjadi pengingat bahwa KPU bekerja berdasarkan hukum, menjunjung tinggi keadilan, dan berpijak pada nilai-nilai moral bangsa. Setiap pasal, setiap sila, sejatinya hadir dalam keputusan-keputusan teknis maupun kebijakan administratif KPU sehari-hari.

 

Mutual Respect: Etika Kerja yang Selaras dengan Sila Kedua

Salah satu nilai yang tampak jelas dalam apel pagi adalah mutual respect atau sikap saling menghargai. Penghormatan kepada pembina apel bukan bentuk pengultusan jabatan, melainkan penghargaan terhadap struktur organisasi dan tata krama birokrasi. Ketika upacara ditutup dengan saling berjabat tangan, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab termanifestasikan secara nyata.

Di sinilah Pancasila tidak lagi menjadi wacana abstrak. Ia hadir dalam tindakan:

  • saling memberi ruang,
  • menghormati pendapat,
  • menjaga komunikasi yang santun,
  • serta membangun suasana kerja yang harmonis.

Nilai-nilai inilah yang memperkuat soliditas KPU Kabupaten Sumedang, terutama ketika menghadapi dinamika tahapan pemilu yang semakin kompleks.

 

Kepemimpinan yang Humanis dalam Amanat Pembina Apel

Amanat pembina apel merupakan ruang penting untuk mengkomunikasikan arah kebijakan, evaluasi, serta motivasi kerja. Di sini terlihat bagaimana kepemimpinan yang mengedepankan kebijaksanaan (wisdom leadership) selaras dengan Sila Keempat Pancasila: bahwa keputusan publik seharusnya dilandasi musyawarah, keadilan, dan rasionalitas.

Amanat yang disampaikan setiap pagi bukan hanya instruksi teknis, tetapi juga bentuk penguatan moral agar penyelenggara pemilu menjalankan tugas dengan kejujuran, netralitas, dan profesionalisme. Bagi KPU yang memegang mandat konstitusional, konsistensi nilai ini adalah syarat utama untuk menjaga kepercayaan publik.

 

Menutup Hari dengan Integritas

Ketika apel ditutup dengan doa, seluruh rangkaian kegiatan itu menyiratkan pesan sederhana namun mendalam: bahwa setiap tugas adalah amanah, setiap pelayanan kepada publik harus diniatkan sebagai ibadah, dan setiap keputusan yang diambil harus bersih dari kepentingan pribadi.

Dalam konteks KPU kabupaten Sumedang, doa ini menjadi pengingat bahwa menjaga kemurnian suara rakyat adalah tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan.

 

Apel Pagi sebagai Pendidikan Karakter Kebangsaan

Apel pagi bukanlah formalitas tanpa makna. Ia merupakan bentuk pendidikan karakter kebangsaan yang konsisten, sederhana, dan berdampak. Melalui apel pagi, nilai Pancasila diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari—mulai dari disiplin, integritas, penghargaan, hingga persatuan.

Di KPU Kabupaten Sumedang, apel pagi menjadi ruang kecil dengan makna besar: ruang untuk membangun budaya organisasi yang kuat, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, dan memperkuat komitmen terhadap penyelenggaraan pemilu yang berintegritas.

Pancasila tidak dimaknai di seminar atau podium besar saja. Ia justru dibumikan dari hal-hal kecil, termasuk dari apel pagi yang rutin dilakukan Bersama setiap hari senin pagi.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 399 kali